Seberapa sering sahabat alumni mendengar hal-hal sejenis kalimat seperti “Wah, badannya bagus banget ya, langsing, beda banget sama aku”, atau “Senang ya pasti jadi dia, pintar, cantik juga”. Atau seberapa sering sahabat alumni sendiri mengucapkan hal ini? Banyak orang ingin mudah dicintai dan dihargai orang lain, tapi terkadang lupa bahwa semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Terkadang mengasihi/menghargai diri mungkin membuat kita khawatir karena mengasihi diri sendiri terdengar seperti keegoisan. Dan kita tahu keegoisan bukanlah hal yang baik.

Keegoisan jelas merupakan sifat karakter yang buruk dan merusak untuk dimiliki. Di sisi lain, mengasihi/menghargai diri sendiri merupakan penyembuhan bagi diri kita sendiri dan orang lain. Tapi bagaimana caranya kita membedakan dalam hal nyata self-love dan selfishness?

Berikut adalah beberapa hal yang menunjukkan bahwa Self-Love dan Selfishness berbeda:

SELF-LOVE Menuntun kita untuk menghormati dan terhubung secara konsisten dengan wise- self.Ini meningkatkan cinta/kasih, kebijaksanaan, kreativitas, dan kasih sayang kita. Menuntun kita pada kasih yang lebih besar dan kepedulian terhadap orang lain. Ini membantu kita untuk melihat bahwa sama seperti kita memiliki wise-self, begitu juga orang lain. Mendorong kepercayaa.n, cinta/kasih, dan komunitas. Dalam keadaan ini, kita mendorong wise-self kita sendiri dan wise-self orang lain. Membuat batas-batas yang sehat. Kita memperlakukan orang lain secara hormat sehingga menjadi hak kita juga untuk diperlakukan yang sama.
SELFISHNESS Membawa kita untuk tenggelam lebih jauh dan lebih jauh ke dalam diri yang terluka. Kita memprioritaskan perilaku kompulsif, dan perilaku mati rasa yang mengalir dari diri yang terluka. Menuntun kita untuk memprioritaskan pikiran, kebutuhan, dan perasaan kita dengan mengorbankan orang lain. Kita tidak mengenali wise- self kita atau wise self orang lain. Mendorong rasa takut, ketidakpercayaan, dan individualisme ekstrem. Mendorong kita untuk melanggar batasan orang lain demi keuntungan kita dan mendorong kita untuk melanggar batasan kita sendiri untuk memberi makan perilaku kompulsif kita.

Setiap orang memiliki pemikirannya sendiri tentang apa yang dikatakan baik. Jika Anda ingin menuruti semua pemikiran mereka, bisa jadi Anda kehilangan makna hidup Anda sendiri. Mencintai diri sendiri tidak pernah menjadi suatu yang buruk selama Anda tahu bagaimana melakukannya dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.

Tidak akan ada yang sempurna di dunia ini, sebaik apapun Anda menilai seseorang atau sesuatu. Orang paling cantik yang pernah Anda temui saja mungkin memiliki kekurangan yang tidak Anda ketahui. Orang yang Anda anggap paling pintar juga mungkin memiliki ketidakmampuan melakukan sesuatu. Setiap orang pasti memiliki kekurangan. Bagaimana Anda mampu menghargai kekurangan yang Anda miliki, akan membuat Anda mampu menghargai kekurangan yang dimiliki orang lain.

Seorang praktisi psikologi, Margaret Paul Ph.D mendefinisikan mencintai diri sendiri sebagai perilaku memahami nilai sebenarnya dalam diri, tentang apa yang sebenarnya ada di dalam diri Anda, bukan menilai diri berdasarkan penampilan fisik atau performa diri. Mencintai diri sendiri adalah perihal menghargai diri Anda sendiri, tentang kelebihan dan kekurangan yang Anda miliki.

Berawal dari mencintai diri sendiri dengan baik, membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Jika setiap orang mampu menghargai kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri dengan baik, ia akan mudah untuk menghargai  kekurangan dan kelebihan orang lain.

Sumber: envato.com

Lalu bagaimana Anda bisa mengidentifikasi kapan “ketakutan akan keegoisan” muncul?

Ketakutan akan keegoisan membawa energi rasa malu. Anda merasa tidak enak untuk mengatakan tidak. Dan sering kali mengatakan ya dengan buruk. Anda merasa terjebak – tanpa pilihan nyata. Secara retrospektif, Anda mungkin merasa lelah, kesal, atau kelebihan beban.

Memberi dari hati sebenarnya terasa menyenangkan. Anda merasa terhubung dan terbuka dengan orang yang Anda beri. Memberi karena takut akan keegoisan terasa tegang dan menguras tenaga. Ketakutan akan keegoisan membuat kita ingin lari ke gua dan bersembunyi. Itu mendorong kita untuk memberi tetapi dalam dosis yang terukur dan hanya dengan begitu antusias.

Sebaliknya, mengasihi dn menghargai diri sendiri membuat kita merasa terbuka, berempati, dan bersemangat untuk membuat perbedaan di mana pun kita bisa. Ini mengundang sukacita dan kemudahan. Semua orang diuntungkan karena kami tampil sebagai diri terbaik kami.

Satu catatan terakhir: Bagaimana Anda tahu jika sebenarnya Anda egois? Biasanya orang yang benar-benar egois tidak akan peduli dengan keseimbangan ini. Jika Anda benar-benar ingin tahu, kemungkinan besar keegoisan bukanlah salah satu tantangan Anda.

Jim Rohn membagikan satu ucapan yang indah, “Hadiah terbesar yang dapat anda berikan kepada seseorang adalah pengembangan pribadi anda sendiri.”

Saat kita semua memutuskan bahwa mengasihi/menghargai diri sendiri itu sehat dan optimal untuk semua orang, merupakan saat dimana kita mengembangkan seluruh  masyarakat menjadi yang lebih baik lagi. Mulai hari ini mari kita coba untuk mengasihi dan menghargai diri sendiri dan orang lain.

Sumber:
Yinova Center: The difference between selfishness and self-love
Shelly P. Johnson: A brief guide to the difference between self-love and selfishness(2018)
https://scaleitsimple.com/2017/07/20/everything-you-need-to-know-about-self-love-vs-selfishness/
Margaret Paul, Ph.D, definisi mencintai diri sendiri diambil dari artikel yang ditulisnya di website Huffington Post. Margaret adalah seorang praktisi psikologi, dan ahli dalam bidang hubungan antar manusia. Ia juga seorang penulis 8 buku best-seller dan pernah tampil di Oprah.