Halo sahabat alumni. Hari ini mau berbagi info tentang pola asuh anak yang mungkin beberapa dari kita masih belum tahu, yaitu “tiger parenting”. Gaya pengasuhan mempengaruhi perkembangan mental anak-anak. Ini juga dapat mempengaruhi pertumbuhan emosi dan psikologis anak secara keseluruhan. Setiap pola pengasuhan juga mempengaruhi hubungan anak dengan orang tua serta memiliki cara yang berbeda dalam pendekatannya.

Pola asuh kerap kali dikaitkan dengan potensi, sifat, perilaku dan hasil berupa prestasi dan keberhasilan anak. Menjadi pertanyaan besar di tengah masyarakat, khususnya kultur di Asia yang terkenal cukup keras mendidik anak-anak mereka. Amy Chua, adalah sosok yang mencetuskan pola asuh Tiger Parenting dalam karya bukunya pada tahun 2011 yang berjudul Battle Hymn of the Tiger Mother. Amy termasuk seorang ibu berbangsa Cina dari golongan terdidik, bahkan ia merupakan seorang profesor hukum di Sekolah Hukum Yale yang terkemuka itu.

Amy menuliskan buku tersebut berdasarkan pengalaman pola asuh tiger parenting yang telah ia terapkan pada anak-anaknya sendiri. Ia mengakui dalam buku itu, bahwa dirinya berhasil membuat nilai akademik anaknya tinggi dan sukses dalam karirnya. Cara mendidik dengan pola asuh tiger parenting ini tergolong cukup ekstrim bagi anak, sebab orang tua akan mendidik dengan memberikan tuntutan-tuntutan keras pada anak mereka.

Mungkin anak akan mendapatkan hasil akademik dan prestasi serta karir yang cemerlang, akan tetapi terjadi penurunan pada aspek lainnya, seperti emosional dan sosial. Anak akan mengalami kesulitan bersosialisasi, sebab sejak kecil sudah diperketat hubungannya dengan teman sebaya dan lingkungannya. Anak yang selalu merasa tertekan dalam pengasuhan tiger parenting cenderung mengalami kesulitan penyesuaian emosi, sehingga emosionalnya tidak adaptif, atau terjadi ketidakmampuan regulasi emosi dalam diri anak terhadap lingkungannya. 

Berdasarkan penelitian Kim et al., (2015) tentang keberhasilan tiger parenting pada anak Cina-Amerika menunjukkan efek buruk dari gaya asuh ini. Efek buruk tersebut dipicu oleh kedisiplinan yang keras secara verbal dan non verbal, mempermalukan anak, ekspresi kekecewaan, serta pengasuhan otoriter lainnya.

Berikut ciri-ciri tiger parenting yang mungkin perlu diketahui oleh para sahabat alumni:

  1. Cenderung tidak mengizinkan anak bermain dengan teman-temannya
  2. Mengharapkan anak mendapatkan nilai terbaik dalam semua ujiannya, dan sering kali Memberikan hukuman jika ia gagal
  3. Lebih peduli pada standar yang kita tetapkan dan ingin ia menjadi yang terbaik dalam segala hal yang dilakukannya.
  4. Lebih peduli pada apa yang dicapai anak, daripada bagaimana ia mencapainya, serta Lebih peduli pada harga diri kita daripada kemampuan anak.
  5. Anak takut menceritakan sesuatu kepada kita, karena kita akan marah jika tidak menyukainya
  6. Cenderung tidak mempercayai anak dalam banyak hal, sehingga terus mengingatkan dan mengaturnya
  7. Lebih mengandalkan aturan, daripada berusaha membuatnya bahagia.
  8. Anak memiliki rutinitas yang kaku, di mana lebih banyak belajar dan sedikit sekali waktu untuk bermain.

Sumber: envato.com

Sahabat alumni juga perlu tahu apa saja dampak yang diakibatkan jika kita mempraktekkan tiger parenting terhadap anak. Berikut dampak yang dapat terjadi diantaranya:

Anak belajar disiplin
Ketatnya aturan dalam tiger parenting secara langsung membiasakan anak disiplin. Namun perlu diingat, Moms, tiger parenting tidak dianjurkan oleh ahli. Selain itu, ada banyak cara lain untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak. Pada pola asuh ini, anak mengikuti aturan Moms bukan karena kesadaran sendiri, melainkan karena takut pada Moms dan konsekuensi yang Moms berikan jika ia tidak menurut.

Anak merasa terbebani dan tertekan
Ekspektasi dan harapan yang Moms bebankan pada anak bisa membuatnya tertekan, dan tidak leluasa mengeksplorasi potensi dirinya karena harus memenuhi harapan orang tua.

Anak takut membuat kesalahan
Anak akan selalu takut membuat kesalahan karena “tiger Moms” cenderung menggunakan metode yang keras sebagai hukuman atas kesalahan tersebut.

Membuat anak cemas dan depresi
Hidup dalam ketakutan terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan dan depresi pada anak. Selain itu, takut membuat kesalahan membuat anak perfeksionis berlebihan, dan ini menghalangi pertumbuhan dan belajarnya.

Menghambat kreativitas anak
Ketatnya aturan dalam tiger parenting menghalangi kreativitas dan pertumbuhan anak, Moms, karena ia dituntut untuk mengikuti aturan dan konsekuensi yang menakutkan.

Berdasarkan beberapa penjelasan dan pandangan di atas membuat kita tahu bahwa pola asuh yang kita gunakan kepada anak sangatlah berpengaruh kepada mereka khususnya dalam psikologi mereka. Seperti yang diungkapkan oleh seorang Psikolog Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi menjelaskan, faktor nature merupakan pemberian Tuhan dan sulit untuk diubah, sementara faktor nurture merupakan faktor pengasuhan seperti nutrisi, stimulasi, pola asuh, dan lainnya.

Kedua faktor inilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku cerdas pada anak.

“Perlakuan orang tua terhadap anak memberikan kontribusi yang besar sekali terhadap kompetensi sosial, emosi, dan kemampuan kecerdasan atau intelektual anak,” jelas Rose dalam acara puncak peringatan Hari Anak Nasional yang digelar di Gedung Siwabessy Kemenkes, Selasa (31/7).

Jika sahabat alumni masih cukup bingung mengenai pola asuh seperti apa yang harus diterapkan pada anak, mungkin sahabat alumni bisa mencoba menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak. Menerapkan pola asuh sesuai dengan temperamen anak, dipercaya bisa menjadi salah satu referensi pengasuhan cukup baik bagi anak-anak. 

Sumber:
Sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180731/2527052/pentingnya-pola-asuh-tepat-membentuk-kepribadian-anak/
School of Parenting.id/pahami-lebih-jauh-tentang-tiger-parenting/
Psikologi.uhamka.ac.id/tiger-parenting-cara-ekstrem-mendidik-anak/
Momsindonesia.com/article/parenting/tiger-parenting-ciri-dan-dampaknya-pada-anak